Selasa, 27 Mei 2008

Check out my Slide Show!

Rabu, 23 April 2008

KEPERAWATAN JIWA PADA LANSIA

Keperawatan Jiwa pada Lansia
Saat ini sudah dapat diperkirakan bahwa 4 juta lansia di Amerika mengalami gangguan kejiwaan seperti demensia, psikosis, Penggunaan alcohol kronik, atau kondisi lainnya. Hal ini menyebabkan perawat dan tenaga kesehatan professional yang lain memiliki tanggung jawab yang lebih untuk merawat lansia dengan masalah kesehatan jiwa dan emosi. Kesehatan mental pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti status fisiologi dan psikologi, kepribadian, sosial support, sosial ekonomi dan pola hidup.
Peran Perawat Jiwa Lansia
Perawat yang bekerja dengan lansia yang memiliki gangguan kejiwaan harus menggabungkan keterampilan keperawatan jiwa dengan pengetahuan gangguan fisiologis, proses penuaan yang normal, dan sosiokultural pada lansia dan keluarganya. Sebagai pemberi pelayanan perawatan primer, perawat jiwa lansia harus pandai dalam mengkaji kognitif, afektif, fungsional, fisik, dan status perilaku. Perencanaan dan intervensi keperawatan mungkin diberikan kepada pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan lain.
Sebagai konsultan, perawat jiwa lansia mengkaji penyediaan perawatan lain pada lansia untuk mengidentifikasi aspek tingkah laku dan kognitif pada perawatan pasien. Praktek perawat ahli jiwa lansia yang telah lulus menempuh pendidikan spesialis di bidang ini dan mungkin akan bekerja di agensi untuk membantu pegawai dalam menjalankan program terapeutik untuk senior dengan gangguan psikiatrik atau perilaku. Perawat jiwa lansia harus memiliki pengetahuan tentang efek pengobatan psikiatrik pada lansia. Mereka dapat memimpin macam-macam kelompok seperti orientasi, , remotivasi, kehilangan dan kelompok sosialisasi dimana perawat dengan tingkat ahli dapat memberikan psikoterapi.


Teori Penuaan
Gerontologis tidak setuju tentang adaptasi penuaan. Tidak ada satu teoripun dapat memasukan semua variable yang menyebabkan penuaan dan respon individu terhadap hal itu. Secara garis besar teori penuaan dibagi menjadi teori biologis, teori psikologis, dan teori sosiokultural.
1. Teori Biologis
a. Biological Programming Theory
Teori program biologis merupakan suatu proses sepanjang kehidupan sel yang terjadi sesuai dengan sel itu sendiri. Teori waktu kehiduan makhluk memperlihatkan adanya kemunduran biologis, kognitif, dan fungsi psikomotor yang tidak dapat dihindari dan diperbaiki, walaupun perubahan diet atau hipotermi dalam waktu yang lama dapat menunda proses tersebut.

b. Wear and Tear Theory
Teori wear and tear ini menyatakan bahwa perubahan struktur dan fungsi dapat dipercepat oleh perlakuan kejam dan diprlambat oleh perawatan. Masalah-masalah yang berkaitan dengan penuaan merupakan hasil dari akumulasi stres, trauma, luka, infeksi, nutrisi yang tidak adekuat, gangguan metabolik dan imunologi, dan perlakuan kasar yang lama.Konsep penuaan ini memperlihatkan penerimaan terhadap mitos dan stereotif penuaan.
c. Stress-Adaptasi Theory
Teori adaptasi stres ini menegaskan efek positif dan negatif dari stres pada perkembangan biopsikososial. Sebagai efek positif, stres menstimulasi seseorang untuk melakukan sesuatu yang baru, jalan adaptasi yang lebih efektif. Efek negatif dari stres bisa menjadi ketidakmampuan fungsi karena perasaan yang terlalu berlebihan. Stres sering di asumsikan dapat mempercepat proses penuaan. Stres dapat mempengaruhi kemampuan penerimaan seseorang, baik secara fisiologi, psikologis, sosial dan ekonomi. Hal ini dapat berakibat sakit atau injuri.

2. Teori psikologis,
a. Erikson’s Stage of Ego Integrity
Teori Erikson tentang perkembangan manusia mengidentifikasi tugas yang harus dicapai pada setiap tahap kehidupan. Tugas terakhir, berhubungan dengan refleksi tentang kehidupan seseorang dan pencapaiannya, ini diidentifikasi sebagai integritas ego. Jika ini tidak tercapai maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan.
b. Life Review Theory
Pada lansia, melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan proses yang normal berkaitan dengan pendekatan terhadap kematian. Reintegrasi yang sukses dapat memberikan arti dalam kehidupan dan mempersiapkan seseorang untuk mati tanpa disertai dengan kecemasan dan rasa takut. Hasil diskusi terakhir tentang proses ini menemukan bahwa melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan salah satu strategi untuk merawat masalah kesehatan jiwa pada lansia.
c. Stability of Personality
Perubahan kepribadian secara radikal pada lansia dapat mengakibatkan penyakit otak. Para peneliti menemukan bahwa periode krisis psikologis pada saat dewasa tidak akan terjadi pada interval regular. Perubahan peran, perilaku dan situasi membutuhkan respon tingkah laku yang baru. Mayoritas lansia pada studi ini memperlihatkan adaptasi yang efektif terhadap kebutuhan ini.

3. Teori Sosiokultural
a. Disengagement Theory
Postulat pada teori ini menyatakan bahwa lansia dan penarikan diri dari lingkungan sosial merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Terdapat stereotype yang kuat dari teori ini termasuk ide bahwa lansia merasa nyaman bila berhubungan dengan orang lain seusianya.
b. Activity Theory
Teori aktivitas berpendapat bahwa penuaan harus disertai dengan keaktifan beraktifitas sebisa mungkin. Teori ini memperlihatkan efek positif dari aktivitas terhadap kepribadian lansia, kesehatan jiwa, dan kepuasan dalam hidup.
c. The Family in Later Life
Teori keluarga berfokus pada keluarga sebagai unti dasar perkembangan emosi seseorang. Teori ini berpendapat bahwa pusat proses siklus kehidupan adalah perubahan sistem hubungan dengan orang lain untuk medukung fungsi masuk, keluar dan perkembangan anggota keluarga. Gejala fisik, emosi, dan sosial dipercaya merupakan repleksi dari masalah negosiasi dan transisi pada siklus kehidupan keluarga.

Pengkajian Pasien Lansia
Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan.

Wawancara
Hubungan yang penuh dengan dukungan dan rasa percaya sangat penting untuk wawancara yang positif kepada pasien lansia. Lansia mungkin merasa kesulitan, merasa terancam dan bingung di tempat yang baru atau dengan tekanan. Lingkungan yang nyaman akan membantu pasien tenang dan focus terhadap pembicaraan.
Keterampilan Komunikasi Terapeutik
Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuk pasien.
Melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan sumber data yang baik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan sumber dukungan. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan atau protocol wawancara pengkajian. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres pasien karena kekurangan informasi. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.
Setting wawancara
Tempat yang baru dan asing akan membuat pasien merasa cemas dan takut. Lingkungan harus dibuat nyaman. Kursi harus dibuat senyaman mungkin. Lingkuangan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
Data yang dihasilkan dari wawancara pengkajian harus dievaluasi dengan cermat. Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien. Perawat harus memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara dan faktor lain yang dapat mempengaruhi status, seperti pengobatan media, nutrisi atau tingkat cemas.

Fungsi Kognitif
Status mental menjadi bagian dari pengkajian kesehatan jiwa lansia karena beberapa hal termasuk :
1. Peningkatan prevalensi demensia dengan usia.
2. Adanya gejala klinik confusion dan depresi.
3. Frekuensi adanya masalah kesehatan fisik dengan confusion.
4. Kebutuhan untuk mengidentifikasi area khusus kekuatan dan keterbatasan kognitif .

Status Afektif
Status afektif merupakan pengkajian geropsikiatrik yang penting. Kebutuhan termasuk skala depresi. Seseorang yang sedang sakit, khususnya pada leher, kepala, punggung atau perut dengan sejarah penyebab fisik. Gejala lain pada lansia termasuk kehilangan berat badan, paranoia, kelelahan, distress gastrointestinal dan menolak untuk makan atau minum dengan konsekuensi perawatan selama kehidupan.
Sakit fisik dapat menyebabkan depresi sekunder. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan depresi diantaranya gangguan tiroid, kanker, khususnya kanker lambung, pancreas, dan otak, penyakit Parkinson, dan stroke. Beberapa pengobatan da[at meningkatkan angka kejadian depresi, termasuk steroid, Phenothiazines, benzodiazepines, dan antihypertensive. Skala Depresi Lansia merupakan ukuran yang sangat reliable dan valid untuk mengukur depresi.

Respon Perilaku
Pengkajian perilaku merupakan dasar yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia. Perubahan perilaku merupakan gejala pertama dalam beberapa gangguan fisik dan mental. Jika mungkin, pengkajian harus dilengkapi dengan kondisi lingkungan rumah. Hal ini menjadi modal pada faktor lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan pada lansia.
Pengkajian tingkah laku termasuk kedalam mendefinisikan tingkah laku, frekuensinya, durasi, dan faktor presipitasi atau triggers. Ketika terjadi perubahan perilaku, ini sangat penting untuk dianalisis.

Kemampuan fungsional
Pengkajian fungsional pada pasien lansia bukan batasan indokator dalam kesehatan jiwa. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dalam pengkajian fungsional yang memiliki dampak kuat pada status jiwa dan emosi.
Mobilisasi
Pergerakan dan kebebasan sangat penting untuk persepsi kesehatan pribadi lansia. Hal yang harus dikaji adalah kemampuan lansia untuk berpindah di lingkungan, partisipasi dalam aktifitas penting, dan mamalihara hubungan dengan orang lain. Dalam mengkaji ambulasi , perawat harus mengidentifikasi adanya kehilangan fungsi motorik, adaptasi yang dilakukan, serta jumlah dan tipe pertolongan yang dibutuhkan. Kemampuan fungsi

Activities of Daily Living
Pengkajian kebutuhan perawatan diri sehari-hari (ADL) sangat penting dalam menentukan kemampuan pasien untuk bebas. ADL ( mandi, berpakaian, makan, hubungan seksual, dan aktifitas toilet) merupakan tugas dasar. Hal ini sangat penting dalam untuk membantu pasien untuk mandiri sebagaimana penampilan pasien dalam menjalankan ADL.
The Katz Indeks
Angka Katz indeks dependen dibandingkan dengan independen untuk setiap ADL seperti mandi, berpakaian, toileting, berpindah tempat , dan makan. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi ADL setiap waktu, yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi.

Fungsi Fisiologis
Pengkajian kesehatan fisik sangat penting pada pasien lansia karena interaksi dari beberapa kondisi kronis, adanya deficit sensori, dan frekuensi tingkah laku dalam masalah kesehatan jiwa. Prosedur diagnostic yang dilakukan diantaranya EEG, lumbal; funksi, nilai kimia darah, CT Scan dan MRI. Selain itu, nutrisi dan pengobatan medis juga harus dikaji.
Nutrisi
Beberapa pasien lansia membutuhkan bantuan untuk makan atau rencana nutrisi diet. Pasien lansia yang memiliki masalah psikososial memiliki kebutuhan pertolongan dalam makan dan monitor makan. Perawat harus secara rutin mengevaluasi kebutuhan diet pasien. Pengkajian nutrisi harus dikaji lebih dalam secara perseorangan termasuk pola makan rutin, waktu dalam sehari untuk makan, ukuran porsi, makanan kesukaan dan yang tidak disukai.
Pengobatan Medis
Empat faktor lansia yang beresiko untuk keracunan obat dan harus dikaji yaitu usia, polifarmasi, komplikasi pengobatan, komorbiditas.
Penyalahgunaan Bahan-bahan Berbahaya
Seorang lansia yang memiliki sejarah penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya beresiko mengalami peningkatan kecemasan dan gangguan kesehatan lainnya apabila mengalami kehilangan dan perubahan peran yang signifikan. Penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya lainnya oleh seseorang akan menyebabkan jarak dari rasa sakit seperti kehilangan dan kesepian.
Dukungan Sosial
Dukungan positif sangat penting untuk memelihara perasaan sejahtera sepanjang kehidupan, khususnya untuk pasien lansia. Latar belakang budaya pasien merupakan faktor yang sangat penting dalam mengidentifikasi support system. Perawat harus mengkaji dukungan sosial pasien yang ada di lingkungan rumah, rumah sakit, atau di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Keluarga dan teman dapat membantu dalam mengurangi shock dan stres di rumah sakit.
Interaksi Pasien- Keluarga
Peningkatan harapan hidup, penurunan angka kelahiran, dan tingginya harapan hidup untuk semua wanita yang berakibat pada kemampuan keluarga untuk berpartisipasi dalam pemberian perawatan dan dukungan kepada lansia. Kebanyakan lansia memiliki waktu yang terbatas untuk berhubungan dengn anaknya. Masalah perilaku pada lansia kemungkinan hasil dari ketiakmampuan keluarga untuk menerima kehilangan dan peningkatan kemandirian pada anggota keluarga yang sudah dewasa.

Selasa, 22 April 2008

GANGGUAN PSIKIATRI ANAK DAN REMAJA

GANGGUAN PSIKIATRIK ANAK-ANAK DAN REMAJA


Gangguan jiwa pada anak-anak merupakan hal yang banyak terjadi, yang umumnya tidak terdiagnosis dan pengobatannya kurang adekuat. Masalah kesehatan jiwa terjadi pada 15% sampai 22% anak-anak dan remaja, namun yang mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20% (Keys, 1998). Gangguan hiperaktivitas-defisit perhatian (ADHD/ Attention Deficit-Hyperactivity Disorder) adalah gangguan kesehatan jiwa yang paling banyak terjadi pada anak-anak, dimana insidensinya diperkirakan antara 6% sampai 9%.
Diagnosis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja adalah perilaku yang tidak sesuai dengan tingkat usianya, menyimpang bila dibandingkan dengan norma budaya, yang mengakibatkan kurangnya atau terganggunya fungsi adaptasi (Townsend, 1999). Dasar untuk memahami gangguan yang terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja adalah dengan menggunakan teori perkembangan. Penyimpangan dari norma-norma perkembangan merupakan tanda bahaya penting adanya suatu masalah.
Gangguan spesifik dengan awitan pada masa kanak-kanak meliputi retardasi mental, gangguan perkembangan, gangguan perkembangan, gangguan eliminasi, gangguan perilaku disruptif, dan gangguan ansietas. Gangguan yang terjadi pada anak-anak dan juga terjadi pada masa dewasa adalah gangguan mood dan gangguan psikotik. Gejala-gejala gangguan jiwa pada anak-anak atau remaja berbeda dengan orang dewasa yang mengalami gangguan serupa.

Jenis Gangguan Jiwa Anak-anak
1. Gangguan perkembangan pervasif. Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama: perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi.

a. Retardasi mental.

Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan substandar dalam berfungsi, yang dimanifestasikan dengan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis, dan bekerja.

b. Autisme

Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas (Johnson, 1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya responsivitas terhadap orang lain, menarik diri dari hubungan sosial, kerusakan yang menonjol dalam komunikasi, dan respon yang aneh terhadap lingkungan (mis., tergantung pada benda mati dan gerakan tubuh yang berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala)

c. Gangguan perkembangan spesifik

Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah pada kerusakan fungsional pada bidang-bidang, seperti membaca, aritmetika, bahasa, dan artikulasi verbal.

2. Defisit perhatian dan gangguan perilaku disruptif
a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian, impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan. Menurut DSM IV, ADHD pasti terjadi di sedikitnya dua tempat (mis., di sekolah dan di rumah) dan terjadi sebelum usia 7 tahun (DSM IV, 1994).

b. Gangguan perilaku

Dicirikan dengan perilaku berulang, disruptif, dan kesengajaan untuk tidak patuh, termasuk melanggar norma dan peraturan sosial. Sebagian besar nak-anak dengan gangguan ini mengalami penyalahgunaan zat atau gangguan kepribadian antisosial setelah berusia 18 tahun. Contoh perilaku pada anak-anak dengan gangguan ini meliputi mencuri, berbohong, menggertak, melarikan diri, membolos, menyalahgunakan zat, melakukan pembakaran, bentuk vandalisme yang lain, jahat terhadap binatang, dan serangan fisik terhadap orang lain.

c. Gangguan penyimpangan oposisi

Gangguan ini merupakan bentuk gangguan perilaku yang lebih ringan, meliputi perilaku yang kurang ekstrim. Perilaku dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku. Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau keduanya).

3. Gangguan ansietas sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke masa dewasa.
a. Gangguan obsesif kompulsif, gangguan ansietas umum, dan fobia banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, dengan gejala yang sama dengan yang terlihat pada orang dewasa.

b. Gangguan ansietas akibat perpisahan adalah gangguan masa kanak-kanak yang ditandai dengan rasa takut berpisah dari orang yang paling dekat dengannya. Gejala-gejalanya meliputi menolak pergi ke sekolah, keluhan somatik, ansietas berat terhadap perpisahan dan khawatir tentang adanya bahaya pada orang-orang yang mengasuhnya.

4. Skizofrenia
a. Skizofrenia anak-anak jarang terjadi dan sulit didiagnosis. Gejala-gejalanya dapat menyerupai gangguan pervasif, seperti autisme. Walaupun penelitian tentang skizofrenia anak-anak sangat sedikit, namun telah dijumpai perilaku yang khas (Antai-Otong, 1995b), seperti beberapa gangguan kognitif dan perilaku, menarik diri secara sosial, dan komunikasi.

b. Skizofrenia pada remaja merupakan hal yang umum dan insidensinya selama masa remaja akhir sangat tinggi. Gejala-gejalanya mirip dengan skizofrenia dewasa. Gejala awalnya meliputi perubahan ekstrim dalam perilaku sehari-hari, isolasi sosial, sikap yang aneh, penurunan nilai-nilai akademik, dan mengekspresikan perilaku yang tidak disadarinya.

5. Gangguan mood
a. Gangguan ini jarang terjadi pada masa anak-anak dan remaja dibanding pada orang dewasa (Keltner,1999). Prevalensi pada anak-anak dan remaja berkisar antara 1% sampai 5% untuk gangguan depresi. Eksistensi gangguan bipolar (jenis manik) pada anak-anak masih kontroversial. Prevalensi penyakit bipolar pada remaja diperkirakan 1%. Gejala depresi pada anak-anak sama dengan yang diobservasi pada orang dewasa.

b. Bunuh diri. Adanya gangguan mood merupakan faktor resiko yang serius untuk bunuh diri. Bunuh diri adalah penyebab kematian utama ketiga pada individu berusia 15 sampai 24 tahun. Tanda-tanda bahaya untuk bunuh diri pada remaja meliputi menarik diri secara tiba-tiba, berperilaku keras atau sangat memberontak, menyalahgunakan obat atau alkohol, secara tidak biasanya mengabaikan penampilan diri, kualitas tugas-tugas sekolah menurun, membolos, melarikan diri, keletihan berlebihan dan keluhan somatik, respon yang buruk terhadap pujian, ancaman bunuh diri yang terang-terangan secara verbal, dan membuang benda-benda yang didapat sebagai hadiah (Newman, 1999).

6. Gangguan penyalahgunaan zat.
a. Gangguan ini banyak terjadi; diperkirakan 32% remaja menderita gangguan penyalahgunaan zat (Johnson, 1997). Angka penggunaan alkohol atau zat terlarang lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding perempuan. Risiko terbesar mengalami gangguan ini terjadi pada mereka yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Pada remaja, perubahan penggunaan zat menjadi ketergantungan zat terjadi lebih cepat; misalnya, pada remaja penggunaan zat dapat berkembang menjadi ketergantungan zat dalam waktu 2 tahun sedangkan pada orang dewasa membutuhkan waktu antara 15 sampai 20 tahun.

b. Komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lainnya merupakan hal yag banyak terjadi, termasuk gangguan mood, gangguan ansietas, dan gangguan perilaku disruptif.

c. Tanda bahaya penyalahgunaan zat pada remaja, diantaranya adalah penurunan fungsi sosial dan akademik, perubahan dari fungsi sebelumnya, seperti perilaku menjadi agresif atau menarik diri dari interaksi keluarga, perubahan kepribadian dan toleransi yang rendah terhadap frustasi, berhubungan dengan remaja lain yang juga menggunakan zat, menyembunyikan atau berbohong tentang penggunaan zat.

Etiologi Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja
Tidak ada penyebab tunggal dalam gangguan mental pada anak-anak dan remaja. Berbagai situasi, termasuk faktor psikobiologik, dinamika keluarga, dan faktor lingkungan berkombinasi secara kompleks.
1. Faktor-faktor psikobiologik
a. Riwayat genetika keluarga, seperti retardasi mental, autisme, skizofrenia kanak-kanak, gangguan perilaku, gangguan bipolar, dan gangguan ansietas.

b. Abnormalitas struktur otak. Penelitian menemukan adanya abnormalitas struktur otak dan perubahan neurotransmitter pada pasien yang menderita autisme, skizofrenia kanak-kanak, dan ADHD.

c. Pengaruh pranatal, seperti infeksi maternal, kurangnya perawata pranatal, dan ibu yang menyalahgunakan zat, semuanya dapat menyebabkan abnormalitas perkembangan saraf yang berkaitan dengan gangguan jiwa. Trauma kelahiran yang berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen pada janin sangat signifikan dalam terjadinya retardasi mental dan gangguan perkembangan saraf lainnya.

d. Penyakit kronis atau kecacatan dapat menyebabkan kesulitan koping bagi anak.

2. Dinamika keluarga
a. Penganiayaan anak. Anak yang terus-menerus dianiaya pada masa kanak-kanak awal, perkembangan otaknya kurang adekuat (terutama otak kiri). Penganiayaan dan efeknya pada perkembangan otak berkaitan dengan berbagai masalah psikologis, seperti depresi, masalah memori, kesulitan belajar, impulsivitas, dan kesulitan dalam membina hubungan (Glod, 1998).

b. Disfungsi sistem keluarga (mis., kurangnya sifat pengasuhan, komunikasi yang buruk, kurangnya batasan antar generasi, dan perasaan terjebak) disertai dengan keterampilan koping yang tidak adekuat antaranggota keluarga dan model peran yang buruk dari orang tua.

3. Faktor lingkungan
a. Kemiskinan.

Perawatan pranatal yang tidak adekuat, nutrisi yang buruk, dan kurang terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak mencukupi dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan normal anak.

b. Tunawisma.

Anak-anak tunawisma memiliki berbagai kebutuhan kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi mereka. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan angka penyakit ringan kanak-kanak, keterlambatan perkembangan dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).

c. Budaya keluarga.

Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan budaya sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak oleh teman sebaya dan masalah psikologik.

Penatalaksanaan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja
1. Perawatan berbasis komunitas saat ini lebih banyak terdapat pada managed care.
a. Pencegahan primer melalui berbagai program sosial yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan anak. Contohnya adalah perawatan pranatal awal, program intervensi dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang sudah diketahui dalam membesarkan anak, dan mengidentifikasi anak-anak yang berisiko untuk memberikan dukungan dan pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.

b. Pencegahan sekunder dengan menemukan kasus secara dini pada anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Metodenya meliputi konseling individu dengan program bimbingan sekolah dan rujukan kesehatan jiwa komunitas, layanan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami situasi traumatik, konseling kelompok di sekolah, dan konseling teman sebaya.

c. Dukungan terapeutik bagi anak-anak diberikan melalui psikoterapi individu, terapi bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang tidak mampu berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal. Metode pengobatan perilaku pada umumnya digunakan untuk membantu anak dalam mengembangkan metode koping yang lebih adaptif.

d. Terapi keluarga dan penyuluhan keluarga penting untuk membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan bantuan yang diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan fungsi semua anggota keluarga.

2. Pengobatan berbasis rumah sakit
a. Unit khusus untuk mengobati anak-anak dan remaja, terdapat di rumah sakit jiwa. Pengobatan di unit-unit ini biasana diberikan untuk klien yang tidak sembuh dengan metode alternatif yang kurang restriktif, atau bagi klien yang beresiko tinggi melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.

b. Program hospitalisasi parsial juga tersedia, memberikan program sekolah di tempat (on-site) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khusus anak yang menderita penyakit jiwa.

c. Seklusi dan restrein untuk mengendalikan perilaku disruptif masi menjadi kontroversi. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat bersifat traumatik pada anak-anak dan tidak efektif untuk pembelajaran respon adaptif. Tindakan yang kurang restriktif meliputi istirahat (time-out), penahanan terapeutik, menghindari adu kekuatan, dan intervensi dini untuk mencegah memburuknya perilaku.

3. Farmakoterapi
Medikasi digunakan sebagai satu metode pengobatan. Medikasi psikotropik digunakan dengan hati-hati pada klien anak-anak dan remaja karena memiliki efek samping yang beragam.
a. Perbedaan fisiologi anak-anak dan remaja memengaruhi jumlah dosis, respon klinis, dan efek samping dari medikasi psikotropik.

b. Perbedaan perkembangan neurotransmiter pada anak-anak dapat memengaruhi hasil pengobatan psikotropik, mengakibatkan hasil yang tidak konsisten, terutama dengan antidepresan trisiklik.


Tinjauan Proses Keperawatan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja
1. Pengkajian
a. Kaji kembali riwayat klien untuk adanya jhal-hal yang mencetuskan stressor atau data yang signifikan, antara lain riwayat keluarga, peristiwa-peristiwa hidup yang menimbulkan stres, hasil pemeriksaan kesehatan jiwa, riwayat masalah fisik dan psikologis serta pengobatannya.

b. Catat pola pertumbuhan dan perkembangan anak dan bandingkan dengan alat standar, seperti The Developmental Screening Test dan versi yang sudah direvisi (Wong, 1997).
c. Catat bukti pencapaian tugas perkembangan yang sesuai bagi anak atau remaja.
d. Lakukan pemeriksaan fisik pada anak atau remaja, catat data normal atau abnormal.
e. Kaji respon perilaku yang dapat mengindikasikan gangguan pada anak-anak atau remaja. Pastikan untuk mengkaji interaksi langsung, observasi permainan, dan interaksi dengan keluarga dan teman sebaya.
f. Identifikasi bukti gangguan kognitif.
g. Observasi adanya bukti-bukti gangguan mood.
h. Kaji kelebihan dan kelemahan sistem keluarga.

2. Diagnosis keperawatan
a. Analisis
b. Tetapkan diagnosis keperawatan bagi klien dan keluarga

3. Perencanaan dan identifikasi hasil
a. Bekerjasama dengan klien dan keluarga dalam menetapkan tujuan yang realistis
b. Tetapkan kriteria hasil yang diinginkan untuk klien, keluarga, atau keduanya.

4. Implementasi
a. Implementasi umum
· Bentuk rasa saling percaya
· Dengarkan secara aktif, tunjukkan perhatian dan dukungan
· Tingkatkan komunikasi yang jelas, jujur, dan langsung
· Tempatkan diri sebagai pihak yang netral, jangan memihak orang tua atau anak
· Dukung kelebihan klien dan keluarga
· Gunakan model kognitif untuk menjelaskan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku
· Berpartisipasi dalam rencana pengobatan di unit rawat inap
· Perkuat secara positif perilaku yang dapat diterima
· Berpartisipasi dalam terapi bermain, biarkan anak mengekspresikan dirinya melalui permainan imajinatif
· Bekerjasama dengan keluarga klien, sekolah, dan tim kesehatan jiwa
· Anjurkan digunakannya kelompok pendukung masyarakat bagi klien dan keluarga
· Anjurkan pada keluarga tentang cara menjaga kesehatan emosi anak melalui penyuluhan klien dan keluarga

Penyuluhan keluarga dengan anak atau remaja yang menderita gangguan mental dapat dilakukan dengan memberikan informasi umum tentang gangguan tersebut, ajarkan pada orangtua tentang cara menjaga kesejahteraan emosi anak, dan beritahu orangtua tentang kelompok pendukung komunitas yang tersedia untuk masalah spesifik yang dialami anak atau keluarga.

b. Untuk anak atau remaja dengan gangguan perkembangan pervasif
· Ciptakan lingkungan yang aman, dan bantu orangtua untuk melakukannya juga di rumah
· Bantu orangtua mengurangi perasaan bersalah dan menyalahkan atas apa yang mereka alami
· Pertahankan konsistensi pengasuh anak di rumah sakit, sekolah, dan rumah
· Bantu orangtua dan saudara kandung anak dalam mengidentifikasi dan mendiskusikan perasaannya, berbagai hal dan masalah yang berkaitan dengan tinggal bersama anak yang menderita gangguan serius
· Alihkan perhatian anak bila ansietasnya meningkat dan perilakunya memburuk
· Berikan benda-benda yang dikenal anak

c. Untuk anak atau remaja dengan ADHD
· Berikan medikasi stimulan di pagi hari guna memaksimalkan efektivitasnya untuk kegiatan di siang hari
· Bantu keluarga menggunakan manipulasi lingkungan untuk mengurangi stimulus guna mengendalikan perilaku
· Bantu keluarga menyusun jadwal yang tetap untuk makan, tidur, bermain, dan mengerjakan tugas sekolah
· Bekerjasama dengan sekolah, keluarga, dan tim kesehatan jiwa untuk memastikan penempatan ruang kelas yang sesuai

d. Untuk anak atau remaja dengan gangguan perilaku atau gangguan penyimpangan oposisi
· Buat batasan-batasan yang tegas, jelas, dan konsisten tentang konsekuensi atas perilaku yang tidak dapat diterima
· Bantu orangtua menentukan dan mempertahankan batasan yang telah ditetapkan
· Berikan umpan balik positif atas perilaku yang baik
· Dorong klien mengekspresikan kemarahannya dengan sikap verbal yang tepat
· Gunakan latihan fisik dan aktivitas untuk membantu anak menyalurkan kelebihan energi yang muncul karena peningkatan ansietas atau kemarahan
· Catat tanda-tanda perburukan perilaku dan dan lakukan intervensi segera

e. Untuk anak atau remaja dengan gangguan ansietas
· Pertahankan sikap tenang bila klien dan orangtua mengalami peningkatan ansietas
· Ajarkan pada klien tindakan koping untuk mengatasi ansietas
· Gunakan strategi kognitif dalam mendiskusikan tentang ketakutan-ketakutan yang dirasakan klien, dengan mengemukakan realitas yang ada
· Bantu klien segera kembali ke sekolah dengan dukungan dari keluarga, bila terjadi ansietas akibat perpisahan

f. Untuk anak atau remaja dengan gangguan mood
· Ajarkan pada klien dan keluarganya tentang gangguan mood, penyebab, gejala, dan pengobatannya
· Fokuskan pada tindakan meningkatkan harga diri
· Gunakan tindakan kognitif dalam mengatasi perasaan dan pikiran negatif
· Pertahankan sikap yang penuh harapan
· Gunakan tindakan kewaspadaan terhadap bunuh diri bagi klien yang berisiko melakukannya

g. Untuk anak atau remaja dengan gangguan penyalahgunaan zat
· Ajarkan pada klien dan keluarganya tentang zat-zat tersebut dan dampaknya terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis
· Anjurkan klien dan keluarganya untuk menghadiri kelompok swadaya, misalkan alcoholic anonymous
· Perkuat sikap penuh harapan bahwa klien dapat mencapai dan mempertahankan keadaan bersih tanpa penyalahgunaan
· Ajarkan tindakan koping untuk mengatasi perasaan dan situasi yang tidak nyaman

5. Evaluasi hasil
Perawat menggunakan kriteria hasil berikut ini untuk menentukan efektivitas intervensi keperawatan yang dilakukan.
a. Klien dan keluarganya menunjukkan perbaikan keterampilan koping
b. Klien mengendalikan perilaku impulsifnya
c. Klien menunjukkan stabilitas mood yang normal
d. Klien berpartisipasi dalam program penyuluhan sesuai kemampuan
e. Klien dan keluarganya berpartisipasi dalam program pengobatan dan menerima rujukan komunitas
f. klien berinteraksi secara sosial dengan kelompok teman sebaya



Daftar Pustaka :
Isaac, Ann. 2004. Panduan Belajar : Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta: EGC.

DIAGNOSIS PASIEN LANJUT USIA

DIAGNOSIS PASIEN LANJUT USIA

1. Perubahan Proses Fikir
- Kehilangan Memori
Kehilangan memori pada lansia merupakan hal yang membuat stres dan frustasi. Walaupun kehilangan memori bisa disebabkan penyakit otak organik atau depresi, semua hal itu tidak ada hubungannya dengan proses penyakit. Seiring bertambahnya usia, kehilangan short-term memory (mengingat kejadian yang baru saja terjadi) lebih sering terjadi daripada kehilangan long-term memory (mengingat kejadian yang dulu).

Banyak faktor yang berkontribusi dalam kehilangan memori pada lansia,diantaranya stres atau krisis, depresi, perasaan tidak berharga, kehilangan interes pada kegiatan-kegiatan, perubahan serebrovaskuler yang berpengaruh pada fungsi serebral, hilangnya sel saraf dikarenakan penyakit atau trauma, dan penurunan sensori atau isolasi sosial. Kerusakan memori bisa disebabkan penurunan penglihatan atau pendengaran.


- Bingung
Bingung digunakan perawat untuk menjelaskan sekumpulan perilaku klien meliputi tidak ada perhatian dan defisit memori,ketidaktepatan verbal, gangguan perilaku, tidak rela, dan kegagalan untuk melaksanakan aktivitas harian. Seringnya, bingung digunakan untuk pasien yang apatis, pendiam, atau yang tidak kooperatif. Wollanin dan Phillips menyarankan beberapa kategori pasien yang biasa dimasukan dalam kelompok “bingung” : masalah pasien, pasien dengan masalah komunikasi (slurred, dysphasia), pasien yang menentang nilai personal staf, pasien yang tidak atraktif, pasien depresi, dan pembuat masalah.


Lansia yang berada di panti berisiko mengalami bingung. Dari 40%-80% terjadi karean berbagai tingkatan penyakit organik otak dengan disorientasi pada waktu,tempat, dan orang, kehilangan memori yang baru saja terjadi serta waktu dulu, tidak bisa menghitung hitungan sederhana. Pada perawatan yang lama, lebih dari 30% mengalami bingung. Faktor presipitasi tergantung dari kondisi fisik dan psikologis pasien.

Bingung pada pagi-pagi dinamakan Sunrise Syndrome,diakibatkan efek hangover dari sedatif/hypnotics atau obat malam laiinnya yang berhubungan dengan obat untuk tidur. Disorientasi dan kebingungan dapat meningkat pada waktu malam hari, terjadi karena kehilangan akomodasi penglihatan. Hal ini dinamakan Sundown Syndrome.
Perawat seharusnya tidak mempunyai asumsi bahwa kebingungan dan disorientasi merupakan hal yang wajar sebagai akibat perubahan perubahan kognitif atau status psikologi. Kebingungan dapat diperbaiki pada setengah dari pasien yang mengalaminya.

- Paranoia
Beberapa lansia bereaksi terhadap kehilangan, isolasi, dan kesepian dengan paranoian dan ketakutan. Gejala paranoia bisa secara umum, bisa juga spesifik. Pasien lansia bisa merasa terancam terhadap orang disekitarnya seperti teman, keluarga, tetangga, atau pada waktu tertentu (misal malam hari). Pindah rumah, ruangan baru, atau lingkungan asing dapat menyebabkan ketakutan, kecemasan, dan pada beberapa orang muncul pikiran paranoia. Karakteristik pasien dengan paranoia : menarik diri, jauh, ketakutan, oversensitif, dan sering penuh rahasia. Suatu saat mereka akan mengancam diri mereka sendiri dan orang lain.


2. Respon Afektif
- Disfunctional Grieving
Kehilangan yang berkepanjangan harus dipertimbangkan sebagai depresi. Gejala yang umum terjadi meliputi : kehilangan berat badan, kehilangan nafsu makan, kelelahan, apatis, kehilangan kesenangan dengan teman, keluarga dan aktivitas yang biasa dilakukan, serta penurunan psikomotor. Gejala tersebut muncul bukan karena pertambahan usia tetapi memang merupakan sebuah masalah.


- High Risk Violence :self-directed
Kematian yang disengaja pada lansia sangat jarang terjadi. Lansia yang mengalami kematian disengaja, lebih dari 25 %, berusia di atas 65 tahun. Laki-laki kulit putih memiliki risiko tertinggi. Risko tinggi terjadinya kematian yang disengaja diantaranya lansia yang terisolasi yang juga tidak mempunyai keluarga atau teman sampai meninggal, lansia yang mengalami perubahan fungsi tubuh dan penurunan kemandirian karena nyeri, kelemahan, imobiliti, atau nafas yang pendek: yaitu yang mengalami perubahan fungsi tubuh dikarenakan pembedahan atau stroke. Orang yang menderita terminal ill


- Situational Low Self-esteem
Harga diri rendah diekspresikan melalui preokupasi kesehatan fisik dan mental serta melalui keluhan pada tubuh. Hal ini dinamakan hipokondriasis. Semua gejala harus dianggap serius dan dikaji secara menyeluruh. Apapun penyebabnya, masalah dan ketidaknyamanan pasien adalah nyata.


3. Respon Somatik
- Gangguan Tidur
Banyak lansia yang mengalami masalah tidur kronik atau intermitten. Keluhan gangguan tidur, tidak bisa tidur, atau “kurang”tidur dengan frekuensi bangun dan ketika bangun pagi merasa kelelahan. Kurang olahraga, keterbatasan gerak, dan efek samping dari obat berkontribusi terhadap terjadinya insomnia. Hal ini juga merupakan gejala depresi.


- Nafsu makan : kurang dari kebutuhan tubuh
Kehilangan nafsu makan umumterjadi pada lansia yang mengalami depresi. Tidak adekuatnya asupan nutrisi biasa terjadi juga pada pasien yang bingung dan disorientasi. Lupa makan atau tidak mampu menyiapkan makan menjadi maslaah tambahan pada lansia yang kehilangan nafsu makan. Efek samping beberapa obat (mulut kering, perubahan sensasi rasa) menyebabkan kurangnya keinginan pada makanan. Hubungan antara kehilangan nafsu makan dengan disfungsi emosional harus dipertimbangkan dalam evaluasi nutrisi. Kekurangan nutrisi bisa menyebabkan keletihan, tidak bergairah, dan imobility.


4. Respon Stres
- Relocation Stress Syndrome
Kondisi ini meliputi fisik dan atau gangguan psikososial yang berhubungan dengan pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Factor risiko yang brhubungan dengan relocation stress syndrome diantaranya :
ü Gangguan psikososial dan atau status kesehatan fisik
ü Kehilangan yang baru saja terjadi
ü Kehilangan fungus gerak
ü Ketiksiapan untuk pindah
ü Merasa tidak berdaya
ü Mnerima perbedaan antara lingkungan yang baru dengan yang lama
ü Pengalaman pindah sebelumnya
ü Support system yang tidak adekuat


Perilaku yang berhubungan dengan Relocation Stress Syndrome
ü Kecemasan, ketakuatan pada sesuatu yang akan terjadi, restlessness, focus pada verbal/kecewa ketika pindah
ü Waspada, dependen, kebutuhan verbal meningkat, insecurity, kekurangan rasa percaya
ü Meningkatnya kebingungan
ü Depresi, sedih, menarik diri, dan kesepian
ü Gangguan tidur
ü Perubahan dalam kebiasaan makan, gangguan gastrointestinal, dan perubahan berat badan


5. Respon Perilaku
- Isolasi social
Kehilangan yang multiple atau ketakuatan dapat menimbulkan isolasi social. Proses berduka yang panjang karena kehilangan pasangan, saudara, anak, atau teman dekat dapat membuat lansia ragu-ragu untuk ikut bergabung dengan yang lain. Pasien lansia yang mengalami kerusakan organik kognitif (seperti penyakit Alzeimer) sering menarik diri dari lingkungan social, kebiasaan sehari-hari, dan aktivitas harian. Lansia menyangkal mereka memiliki masalah atau takut akan konsekuensi dari perubahan memori. Isolasi social dapat menjadi mekanisme pertahanan diri, penguat penyangkalan akan ketidakmampuannya.


- Defisit Perawatan Diri
Sakit kronis adalah salah satu bagian dari penuaan yang menghasilkan ketidakmampuan untuk merawat diri sendiri. Sakit afektif seperti mayor depresi atai bipolar disorder dapat menyebabkan keterlambatan psikomotor dan kekuranag dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Pengobatan dapat menyebabkan pikun, kelemahan, dan kerusakan fisik. Karena kelemahan moril meningkat, kerusakan kognitif, atau keduanya membuat lansia tidak dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri seperti mandi, toileting, makan, dan minum.


PERENCANAAN DAN INTERVENSI
Hasil yang diharapkan berhubungan dengan perawatan lansia harus relistik berdasarkan perubahan yang potensial. Contohnya tujuan yang ingin dicapai pada pasien dengan depresi yang bermasalah dalam personal hygiene : Pasien dapat mandi, berpakaian, dan menyikat gigi secara mandiri


1. Theurapheutic Milleu
- Stimulasi kognitif
Aktivitas yang dilakukan harus direncanakan untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan kognitif pasien. Diskusi kelompok dapat membantu pasien fokus pada topik.

- Meningkatkan rasa aman dan nyaman
Lansia sering melakukan yang terbaik pada situasi yang direncanakan untuk perawatan mereka. Setting jiwa lansia harus dirancang dengan warna yang lembut. Jika ada musik harus yang menenangkan dan disukai oleh lansia. Cahaya yang menyilaukan harus dihindari. Bagi lansia yang tidak tinggal dirumah mereka barang-barang seperti foto-foto keluarga, objek religius, afghan, atau benda-benda yang menenangkan. Kemananan harus dipertimbangkan karena lansia sering terjatuh, lantai tidak boleh licin dan tidak ada rintangan.

- Consisten physical layout
Perubahan ruangan harus dihindari, barang-barang yang ada harus tetap, hal ini membantu lansia yang disorientasi dan menjaga keselamatan lansia.

- Structured routine
Jadwal sehari-hari harus direncanakan dengan pasti. Waktu tidur, waktu bangun, tidur siang dan waktu makan tidak boleh berubah-ubah.

- Fokus pada kelebihan dan kemampuan
Sebagain besar lansia memiliki prestasi pada masa lalunya. Jika lansia tidak mampu berkomunikasi, anggota keluarga dapat memberikan informasi mengenai kehidupan mereka dan memberi kegiatan yang dsukai lansia.

- Minimize disruptive behavior
Memahami perilaku pasien dapat mengurangi agitasi dan krisis perilaku.

- Minimal demand for compliant behavior
Lansia yang mengalami kerusakan kognitif sering menentang permintaan dari orang lain. Mereka tidak mengerti apa yang ditanyakan pada mereka atau mereka menjadi takut pada perubahan aktivitas yang tidak dapat diprediksi.

2. Restraint fisik

3. Terapi somatic
- Terapi elektro konfulsif
Terapi ini efektif untuk intevensi pada lansia yang mengalami depresi. Kontraindikasi pada lansia yang memiliki lesi intracranial dengan peningkatan tekanan intracranial, aritmia, dan infark miokard lebih dari 3 bulan.

- Pengobatan psikotropika
Pemberian obat pada lansia harus hati-hati, karena obat dapat berpengaruh pada perilaku lansia dan system saraf pusat.

4. Intervensi interpersonal
- Psikoterapi
Menurut Turner ada beberapa indikasi psikoterapi, diantaranya peningkatan harga diri, ketakutan pada nyeri, tidak berdaya dan putus asa, isoalasi dan kesepian, gangguan fisik dan mental, kehilangan kemampuan dan persepsi akan kematian.

- Life review therapy
Terapi ini memiliki fungsi psikoterapi yang positif, memberi kesempatan untuk mereleksikan kehidupannya, mengatur kembali dan mengintegrasikan masalah. Terapi ini bisa digunakan pada kelompok atau individu.

- Reality orientation
Realiy orientation dapat mencegah kebingungan dan menjaga pasien untuk tetap terorientasikan pada waktu, tempat, orang dan situasi diantaranya dengan menyediakan jam, kalender, dan tulisan yang berisi tahun, musim, dan sebagainya.

- Terapi validasi
Reality orientation memang efektif untuk lansia yang mengalami kebingungan atau disorientasi, tetapi beberapa fakta mengemukakan bahwa beberapa lansia khususnya yang mengalami gangguan organic minimal, disorientasi, dapat menjadi sebuah realita yang disangkal. Para lansia ini menjadi khawatir atau agitasi jika diorientasikan pada kenyataan. Pendekatan alternative untuk lansia yang mengalami kebingungan dan disorientasi dikembangkan oleh Feil dan didiskusikan dengan pasien yang tidak berespon terhadap kenyataan. Pendekatan ini meliputi pengkajian emosi dan arti disorientasi pasien atau kata-kata yang membingungkan dan perilaku (seperti rasa ingin tahu) serta memvalidasi secara verbal ke pasien.

- Cognitive training and therapy
Situasi problem – solving, training memory formal dan pelatihan memori terpilih efektif untuk meningkatkan perhatian, kemampuan untuk merecall dan kemampuan untuk belajar skill baru (seperti kalkulasi matematik dan vocabulary). Cognitive training dapat efektif untuk kognitif yang utuh, memotivasi lansia yang mengalami minor atau mayor depresi. Terapi kognitif mendukung meningkatnya mekanisme pertahanan seperti rasionalisasi dan intelektualisasi, dan mendorong partisipasi aktif pasien.

- Terapi relaksasi
Relaksasi dapat menurunkan ketegangan dan mengurangi stress, mengurangi halangan dalam berkomunikasi. Relaksasi, dikombinasikan dengan latihan isometric yang sedang dapat meningkatkan cardiac output, energy, dan mobilitas serta dapat mengurangi stress. Terapi ini tidak membutuhkan kemampuan yang lebih, baik dari pasien maupun dari perawatnya.

- Supported and counseling groups
Anggota kelompok dapat mengeluarkan perasaan, pendekatan penyelesaian masalah dan penyelesaian konflik secara rasional dan sistematis. Lansia berespon positif pada kelompok pendukung yang meningkatkan harga diri, percaya diri, dan empati. Humor menjadi sesuatu cara yang efektif untuk lansia yang menarik diri.

- Edukasi pasien
Lansia yang mengalami depresi, biasanya menerima edukasi. Latihan untuk meningkatkan pikiran dan gambaran positif, dan permainan kognitif berulang dapat digunakan sebagai dasar untuk merubah perilaku.

- Family education and support
Sekitar 80 % lansia tinggal di rumah dan dirawat oleh pasangannya, saudara, atau anak tertua. Oleh karena itu, pemberian dukungan dan edukasi kepada keluarga sangat penting. Keluarga sering menganggap perawat sebagai petugas kesehatan yang mudah dihubungi dan yang memahami hubungan, konflik, kebutuhan, dan sumber daya keluarga. Pendidikan pada keluarga berhubungan dengan proses normal penuaan, dinamika keluarga dan system keluarga, dan stress.

Daftar Pustaka :

Stuart & Sundeen. 1995. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition. United State of America : Mosby.

KEPERAWATAN JIWA ANAK SECARA UMUM

KEPERAWATAN JIWA ANAK SECARA UMUM


I. Landasan Teoritis Perkembangan Jiwa Anak
A. Teori Perkembangan Fisio-Biologis
Tiga konsep utama yang melandasi teori fisio-biologis perkembangan individu adalah kepribadian, sifat (traits), dan temperamen. Kepribadian didefinisikan sebagai elemen-elemen yang membentuk reaksi menyeluruh individu terhadap lingkungan. Temperamen adalah gaya perilaku sebagai reaksinya terhadap lingkungan dan berkaitan dengan traits yaitu atribut kepribadian. Walaupun tidak bersifat genetic, sifat bawaan (inborn traits) menghasilkan respon social yang berbeda yang mempengaruhi pola keterikatan (attachment patterns) dan perkembangan psikopatologi.
Body image (citra tubuh) merupakan konsep biofisik yang juga mempunyai dimensi biologis dan social dalam perkembangan seseorang. Bersifat dinamis, dan berkembang mengikuti perkembangan interpersonal, lingkungan, dan citra tubuh ideal dan penyesuaian sebagai respon terhadap pertumbuhan fisik dan pengalaman hidup. Maturasi secara teratur dan berangsur terbentuk yang membedakan anak sebagai bagian yang terpisah dari ibunya, dan skema tubuh mereka menjadi lebih mantap dan stabil pada akhir masa remaja.
B. Teori Perkembangan Psikologis
Teori psikoanalitis yang dikembangkan oleh Freud, begitu pula teori interpersonal yang dikenalkan oleh Sullivan mendasari teori psikologis perkembangan. Freud adalah orang pertama yang menemukan teori perkembangan kepribadian dalam pengobatan psikoanalitis pada orang dewasa. Ia menekankan pada tahapan perkembangan dan pengaruh pengalaman masa kecil terhadap perilaku pada saat dewasa. Freud menyatakan bahwa masa lima tahun pertama kehidupan anak sangat penting dan pada usia lima tahun karakter dasar yang dimiliki anak telah terbentuk dan tidak daapt diubah lagi. Freud juga mengenalkan antara lain konsep transferens, ego, mekanisme koping (coping mechanism),. Sullivan memfokuskan teori perkembangan anak pada hubungan antara manusia. Tema sentral teori Sullivan berkisar pada ansietas dan menekankan bahwa masyarakat sebagai pembentuk keribadian. Anak belajar perilaku tertentu karena hubungan interpersonal.
C. Teori Perkembangan Kognitif
Teori Piaget menekankan bahwa cara anak berpikir berbeda dengan orang dewasa, bahkan anak belajar secara spontan tanpa mendapatkan masukan dari orang dewasa. Menurut Piaget, anak belajar melalui proses meniru dan bermain. Menunjukkan proses kegiatan asimilasi dan akomodasi, yang menjabarkan tiap tahap dan usai dari kematangan kognitif anak. Perkembangan kognitif mengintegrasikan struktur pola perilaku sebelumnya ke arah pola perilaku baru yang lebih kompleks. Kecepatan tiap tahap perkembangan dipengaruhi oleh perbedaan tiap individu dan pengaruh sosial. Piaget tidak setuju dengan pendapat ilmuwan lain bahwa orang dewasa dipengaruhi oleh tingkat perkembangan sebelumnya.
D. Teori Perkembangan Bahasa
Penguasaan bahasa merupakan tugas perkembangan utama pada masa kanak-kanak, yang mana struktur linguistik dan kognitif berkembang secara paralel. Chomsky (1975) dalam teorinya menyatakan bahwa anak menggunakan dan menginterpretasikan kalimat baru melalui proses kognitif internal yang disebut dengan transformasi, yaitu penyusunan kata menjadi kalimat. Mula-mula anak memverbalisasi persepsi mereka dengan memberi nama tentang hal yng dipersepsikan, kemudian meningkat dengan memverbalisasi emosi mereka. Pemberian nama pada objek dan perasaan yang dialami, meningkatkan rasa kontrol anak terhadap perasaannya, yang dengan sendirinya membantu mereka untuk membedakan apa yang nyata dan yang tidak. Perkembangan anak memudahkan uji realitas dan sebagai dasar terhadap identitas dan perbedaan semua dimensi pada anak yang sedang berkembang.
E. Teori Perkembangan Moral
Perkembangan moral diartikan sebagai konversi sikap dan konsep primitif ke dalam standar moral yang komprehensif. Proses transformasi ini merupakan bagian dari/dan tergantung pada kumpulan pertumbuhan kognitif anak, yang timbul sejalan dengan hubungan anak dengan dunia luar. Teori perkembangan moral anatara lain dikemukakan oleh Freud, Piaget, dan Kohlberg.
F. Teori Perkembangan Psikologi Ego
Teori psikologi ego yang menjembatani psikoanalisis dengan psikologi perkembangan ini menggunakan pendekatan struktural untuk memnahami individu dengan berfokus pada ego atau diri sebagai unsur mandiri. Ilmuwan yang mendukung teori ini berkeyakinan bahwa ego dan unsur rasional yang menentukan pencapaian intelektual dan sosial terdiri dari sumber energi, motif, dan rasa tertarik.
Pada dasarnya tidak ada satu teori pun yang secara lengkap menjelaskan perkembangan jiwa anak dan menyimpulkan secara holistik tentang penyimpangan kesehatan jiwa pada anak termasuk landasan intervensi yang perlu dilakukan. Oleh karena itu dalam keperawatan jiwa pada anak dapat digunakan suatu pendekatan yang berfokus pada keterampilan kompetensi ego anak. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), pendekatan ini sangat efektif dan sensitif secara kultural dalam merencanakan dan mengimplementasikan intervensi keperawatan apapun diagnosis psikiatri atau dimanapun tatanan pelayanan kesehatan jiwa diberikan.
Sembilan keterampilan kompetensi ego yang perlu dimiliki oleh semua anak untuk menjadi seorang dewasa yang kompeten menurut Strayhorn (1989) adalah :
1. Menjalin hubungan dekat dengan penuh rasa percaya
2. Mengatasi perpisahan dan membuat keputusan yang mandiri
3. Membuat keputusan dan mengatasi konflik interpersonal secara bersama
4. Mengatasi frustrasi dan kejadian yang tidak menyenangkan
5. Menyatakan perasaan senang dan merasakan kesenangan
6. Mengatasi penundaan kepuasan
7. Bersantai dan bermain
8. Proses kognitif melalui kata-kata, simbol dan citra (image)
9. Membina perasaan adaptif terhadap arah dan tujuan

II. Proses Keperawatan
Sesuai dengan tahapan proses keperawatan dan dengan berorientasi pada keterampilan kompetensi ego, pertama kali perawat perlu melakukan pengkajian.
A. Pengkajian
Perawat mengkaji penguasaan anak terhadap tiap area keterampilan yang dibuthkan anak untuk dapat menjadi seorang dewasa yang kompeten. Selain mengkaji keterampilan yang telah diuraikan tersebut, perawat juga perlu mengkaji data demografi, riwayat kesehatan terdahulu, kegiatan hidup anak sehari-hari, keadaan fisik, status mental, hubungan interpersonal, serta riwayat personal dan keluarga.
1. Data demografi
Meliputi nama, usia, tempat dan tanggal lahir anak; nama, pendidikan, alamat orang tua; serta data lain yang dianggap perlu diketahui.riwayat kelahiran, alergi, penyakit dan pengobatan yang pernah diterima anak, juga perlu dikaji. Selain itu, aktivitas kehidupan sehari-hari anak meliputi keadaan gizi termasuk berat badan, jadwal makan dan minat terhadap makanan tertentu, tidur termasuk kebiasaan dan kualitas tidur, eliminasi meliputi kebiasaan dan masalah yang berkaitan dengan eliminasi, kecacatan dan keterbatasan lainnya.
2. Fisik
Perlu diperiksa keadaan kulit, kepala, rambut, mata, telinga, hidung, mulut, pernafasan, kardiovaskular, muskuloskeletal, dan neurologis anak. Pemeriksaan fisik lengkap sangat diperlukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh gangguan fisik terhadap perilaku anak. Selain itu hasil pemeriksaan fisik berguna sebagai dasar dalam menentukan pengobatan yang diperlukan. Bahkan untuk mengetahui kemungkinan bekas penganiayaan yang pernah dialami anak.
3. Status mental
Pemeriksaan status mental bermanfaat untuk memberikan gambaran mengenai fungsi ego anak. Perawat membandingkan perilaku dengan tingkat fungsi ego anak dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, status mental anak perlu dkaji setiap waktu dengan suasana yang santai dan nyaman bagi anak.
Pemeriksaan atatus mental meliputi keadaan emosi, proses berpikir, dan isi pikiran; halusinasi dan persepsi; cara bicara dan orientasi; keinginan untuk bunuh diri atau membunuh.
Pengkajian terhadap hubungan interpesonal anak dilihat dalam hubungannya dengan anak sebayanya, yang penting untuk mengetahui kesesuaian perilaku dengan usia.
4. Riwayat personal dan keluarga
Meliputi faktor pencetus masalah, riwayat gejala, tumbuh kembang anak, biasanya dikumpulkan oleh tim kesehatan. Data ini sangat diperlukan untuk mengerti perilaku anak dan membantu menyusun tujuan asuhan keperawatan. Pengumpulan data keluarga merupakan bagian penting dari pengkajian melalui pengalihan fokus anak sebagai indivdu ke sistem keluarga. Tiap anggota keluarga diberi kesempatan untuk mengidentifikasi siapa yang bermasalah dan apa yang telah dilakukan oleh keluarga untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Untuk menegakkan diagnosa keperawatan, data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa sebagai dasar perencanaan asuhan keperawatan selanjutnya.dalam keperawatan psikiatri dapat digunakan PND (Psychiatric Nursing Diagnosis), NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) dan DSM-III R (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders).
B. Perencanaan
Tujuan asuhan keperawatan disusun sesuai dengan kebutuhan anak, seperti modifikasi penyesuaian anak sekolah, dan perubahan lingkungan anak. Untuk anak yang dirawat di unit perawatan jiwa, tujuan umumnya adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan emosi anak dan kebutuhan untuk dihargai
2. Mengurangi ketegangan pada anak dan kebutuhan untuk berperilaku defensif
3. Membantu anak menjalin hubungan positif dengan orang lain
4. Membantu mengembangkan identitas diri anak
5. Memberikan anak kesempatan untuk menjalani kembali tahapan perkembangan terdahulu yang belum terselelsaikan secara tuntas
6. Membantu anak berkomunikasi secara efektif
7. Mencegah anak untuk menyakiti baik dirinya maupun diri orang lain
8. Membantu anak memelihara kesehatan fisiknya
9. Meningkatkan uji coba realitas yang tepat
C. Implementasi
Berbagai bentuk terapi pada anak dan kelurga dapat diterapkan, yang terdiri dari :
1. Terapi bermain
Pada umumnya merupakan media yang tepat bagi anak untuk mengekspresikan konflik yang belum terselesaikan, selain juga berfungsi untuk :
a. Menguasai dan mengasimilasi kembali pengalaman lalu yang tidak dapat dikendalikan sebelumnya
b. Berkomunikasi dengan kebutuhan yang tidak disadari
c. Berkomunikasi dengan orang lain
d. Menggali dan mencoba belajar bagaimana berhubungan dengandiri sendiri, dunia luar, dan orang lain
e. Mencocokkkan tuntutan dan dorongan dari dalam diri dengan realitas
2. Terapi keluarga
Semua anggota keluarga perlu diikutsertakan dalam terapi keluarga. Orangtua perlu belajar secara bertahap tentang peran mereka dalam permasalahan yang dihadapi dan bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi pada anak dan keluarga. Biasanya cukup sulit bagi keluarga untuk menyadari bahwa keadaan dalam keluarga turut meninbulkan gangguan pada anak. Oleh karena itu perawat perlu berhati-hati dalam meningkatkan kesadaran keluarga.
3. Terapi kelompok
Terapi kelompok dapat berupa suatu kelompok yang melakukan kegiatan atau berbicara. Terapi kelompok ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan uji realitas, mengendalikan impuls (dorongan internal), meningkatkan harga diri, memfasilitasi pertumbuhan, kematangan dan keterampilan sosial anak. Kelompok dengan lingkungan yang terapeutik memungkinkan anggotanya untuk menjalin hubungan dan pengalaman sosial yang positif dalam suatu lingkungan yang terkendali.
4. Psikofarmakologi
Walaupun terapi obat bekum sepenuhnya diterima dalm psikiatri anak, tetap bermanfaat untuk mengurangi gejala (hiperaktif, depresi, impulsif, dan ansietas) dan membantu agar pengobatan lain lebih efektif. Pemberian obat ini tetap diawasi oleh dokter dan menggunakan pedoman yang tepat.
5. Terapi individu
Ada berbagai terapi individu, terapi bermain psikoanalitis, psikoanalitis berdasarkan psikoterapi, dan terapi bermain pengalaman. Hubungan antara anak dengan therapist memberikan kesempatan apda anak untuk medapatkan pengalaman mengenai hubungan positif dengan orang dewasa dengan penuh kasih sayang dan uji realitas.
6. Pendidikan pada orang tua
Pendidikan terhadap orang tua merupkan hal yang penting untuk mencegah gangguan kesehatan jiwa anak, begitu pula untuk meningkatkan kembali penyembuhan setelah dirawat. Orang tua diajarkan tentang tahap tumbuh kembang anak, sehingga orang tua dapat mengetahui perilaku yang sesuai dengan usia anak. Keterampilan berkomunikasi juga meningkatkan pengertian dan empati antara orangtua dan anak. Teknik yang tepat dalam mengasuh anak juga diperlukan untuk mengembangkan disiplin diri anak. Hal-hal lain seperti psikodinamika keluarga, konsep kesehatan jiwa, dan penggunaan pengobatan, juga diajarkan.
7. Terapi lingkungan
Konsep terapi lingkungan dilandaskan pada kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dialami anak. Lingkungan yang aman dan kegiatan yang teratur dan terprogram, memungkinkan anak untuk mencapai tugas terapeutik dari rencana penyembuhan dengan berfokus pada modifikasi perilaku. Program yang berfokus pada perilaku, memungkinkan staf keperawatan untuk memberikan umpan balik terus menerus kepada anak-anak tentang perilaku mereka sesuai jadwal kegiatan. Untuk perilaku yang baik, mereka menerima pujian, stiker atau nilai, tergantung pada tingkat perkembangannya. Sebaliknya, perilaku negatif tidak ditoleransi.
D. Evaluasi
Pada umumnya fasilitas penyembuhan bagi anak dengan gangguan jiwa mempunyai program yang dirancang untuk jangka waktu tertentu. Waktu perawatan jangka pendek biasanya berkisar antara 2 sampai 4 minggu, dan direncanakan untuk diagnosa dan evaluasi, intervensi krisis, serta perencanaan yang komprehensif.
Pada umunya pengamatan perawat berfokus pada perubahan perilaku anak. Apakah anak menunjukkan kesadaran dan pengertian tentang dirinya sendiri melalui refleksi diri dan meningkatnya kemampuan untuk membuat keputusan secara rasional? Anak harus mulai beradaptasi dengan lingkungannya dan tidak impulsif. Aspek yang perlu dievaluasi antara lain :
a. Keefektifan intervensi penanggulangan perilaku
b. Kemampuan untukberhubungan dengan teman sebaya, orang dewasa dan orang tua secara wajar
c. Kemampuan untuk melakukan asuhan mandiri
d. Kemampuan untuk menggunakan kegiatan program sebagai rekreasi dan proses belajar
e. Respons terhadap peraturan dan rutinitas
f. Status mental secara menyeluruh
g. Koordinasi dan rencana pemulangan


Daftar Pustaka :
Hamid, Achir, 1999. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja. Jakarta : Widya Medika.


Keperawatan Jiwa pada Remaja

KEPERAWATAN JIWA PADA REMAJA


Istilah adolescense atau masa remaja berasal dari kata adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence, seperti yang digunakan saat ini, mencakup arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.
Masa remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu;
1. Remaja awal : 13-16/17 tahun
2. Remaja akhir: 16/17-18 tahun

Ciri-ciri masa remaja:

- Periode yang penting
- Periode peralihan
- Periode perubahan
- Usia bermasalah
- Masa mencari identitas
- Usia yang menimbulkan ketakutan
- Masa yang tidak realistik
- Ambang masa dewasa

Menurut tradisi, masa remaja adalah periode dari meningginya emosi, saat “badai dan tek anan”, namun hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ini bersifat universal atau menonjol atau menetap seperti anggapan orang pada umumnya. Perubahan sosial yang penting dalam masa remaja meliputi:
- Meningkatnya pengaruh kelompok sebaya
- Pola perilaku sosial yang lebih matang
- Pengelompokan sosial baru dan nilai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin
- Dukungan sosial

Minat yang paling penting dan paling universal remaja masa kini terbagi dalam tujuh kategori, yaitu:
- Minat rekreasi
- Minat pribadi dan sosial
- Minat pada pendidikan
- Minat pada pendidikan
- Minat pada pekerjaan
- Minat agama
- Minat pada simbol status

Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum; membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individual; dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani.

Hubungan antara remaja dengan anggota keluarga cenderung merosot pada awal masa remaja meskipun hubungan-hubungan ini seringkali membaik menjelang berakhirnya masa remaja, terutama hubungan remaja-remaja putri terhadap anggota keluarganya. Meskipun sebagian besar remaja ingin sekali memperbaiki kepribadian dengan harapan meningkatkan status mereka di dalam kelompok sosial, namun banyak kondisi yang mempengaruhi konsep diri berada di luar pengendalian mereka.

Bahaya psikologis utama dari masa remaja berkisar di sekitar kegagalan melaksanakan peralihan ke arah kematangan yang merupakan tugas perkembangan terpenting dari masa remaja. Bidang-bidang di mana ketidakmatangan disebabkan kegagalan melakukan peralihan ke perilaku yang lebih matang yang paling umum adalah perilaku sosial, seksual dan moral, dan ketidakmatangan dalam hubungan keluarga. Bila ketidakmatangan tampak jelas, maka dapat menimbulkan penolakan diri yang merusak penyesuaian pribadi dan sosial.


I. Landasan Teoritis Keperawatan Jiwa pada Remaja
Menurut Wilson dan Kneisl (1988), dua teori yang menjadi landasan utama untuk memahami tentang perkembangan remaja ialah teori perkembangan dan teori interaksi humanistik. Stuart dan Sundeen (1995) mengemukakan teori biologis, teori psikoanalitis, teori perkembangan intelektual, teori budaya, dan teori multidimensional.

A. Teori Perkembangan
Teori perkembangan memungkinkan perawat untuk mengidentifikasi penyimpangan yang terjadi pada proses tumbuh kembang remaja. Teori Sigmund Freud, Erik Erikson, dan Sullivan memberikan penghayatan kepada kita tentang perjuangan remaja dalam mencapai kedewasaan.
Proses perkembangan identitas diri remaja memerlukan self image (citra diri) juga hubungan antar peran yang akan datang dengan pengalaman masa lalu. Untuk mendapatkan kesamaan dan kesinambungan, pada umumnya remaja harus mengulangi penyelesaian krisis masa lalu dengan mengintegrasikan elemen masa lalu dan membina identitas akhir.

Periode krisis yang perlu ditinjau kembali ialah :
1. Rasa percaya
Remaja perlu mencari ide dan objek untuk tempat melimpahkan rasa percaya (sense of trust). Konflik yang tidak terselesaikan pada tahap pertama ini membuat remaja merasa ditingglakan, biasanya dimanifestasikan melalui perilaku makan yang berlebihan, serta ucapan kasar dan bermusuhan.
2. Rasa otonomi
Remaja belajar bertindak dan membuat keputusan secara mandiri. Konflik masa lalu yang tidak terselesaikan membuat remaja takut mengikuti kegiatan yang akan membuat dia ragu akan kemampuannya.
3. Rasa inisiatif
Dimana anak tidak lagi mementingkan bagaimana berjalan, tetapi apa yang dapat dilakukan dengan kemampuan tersebut. Pada tahapan ini, mereka mengujicobakan apa yang mungkin dilakukan, dan bukan apa yang dapat dilakukan. Konflik masa ini akan terbawa pada saat remaja, yaitu ketidaksiapan untuk mengambil inisiatif.
4. Rasa industri.
Menuntut remaja untuk memilih karir yang tidak saja menjamin secara finansial, tetapi juga mmeberikan kepuasan karena penampilan kerja yang baik.

B. Teori Interaksi Humanistik
Perawat perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip interaksi humanistik dalam pengkajian dan asuhan keperawatan untuk mengembangkan hubungan rasa percaya dengan remaja. Perawat perlu memperhatikan dampak tahapan perkembangan, faktor sosial budaya, pengaruh keluarga, dan konflik psikodinamika yang dimanifestasikan melalui perilaku remaja.

II. Proses Keperawatan
Sebagaimana halnya dengan asuhan keperawatan jiwa pada anak, proses keperawatan juga diterapkan dalam asuhan keperawatan bagi remaja.

A. Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan remaja meliputi observasi dan interpretasi pola perilaku, yang mencakup informasi sebagai berikut :
1. Pertumbuhan dan perkembangan
2. Keadaan biofisik (penyakit, kecelakaan)
3. Keadaan emosi (status mental, termasuk proses berpikir dan pikiran tentang bunuh diri atau membunuh orang lain)
4. Latar belakang sosial budaya, ekonomi, agama
5. Penampilan kegiatan kehidupan sehari-hari (rumah, sekolah)
6. Pola penyelesaian masalah (pertahanan ego seperti denial, acting out, menarik diri)
7. Pola interaksi (keluarga, teman sabaya)
8. Persepsi remaja tentang/dan kepuasan terhadap keadaan kesehatannya
9. Tujuan kesehatan remaja
10. Lingkungan (fisik, emosi, ekologi)
11. Sumber materi dan nara sumber yang tersedia bagi remaja (sahabat, sekolah dan keterlinatannya dalam kegiatan di masyarakat)

Data yang dikumpulkan mencakup semua aspek kehidupan remaja bik pada masa lalu maupun ekarang yang diperoleh dari remaja itu sendiri, keluarganya, atau orang lain. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh remaja berkaitan dengan citra diri, identitas diri, kemandirian, seksualitas, pera sosial dan perilaku seksual yang menimbulkan perilaku adaptif dan maladaptif.

Dalam berkomunikasi dengan remaja, perawat harus mengerti bahwa :
1. Perasaan dankonflik cenderung diekspresikan melalui perilaku kasar daripada secara verbal
2. Remaja mempunyai bahasa mereka sendiri
3. Kata-kata kotor sering diucapkan oleh remaja, terutama remaja yang sangat terganggu
4. Banyak data yang dapat diperoleh hanya dengan mengamati perilaku remaja, cara berpakaian, dan lingkungannya

Perawat yang mempelajari keterampilan ewawancarai dan menggunakan pesan nonverbal dapat memanfaatkan keterampilannya dalam berkomunikasi dengan remaja secara wajar. Dalam usahanya menyesuaikan diri dengan perubahan fisik yang pesat, remaja mengalami ketegangan karena konflik antara kebutuhan akan rasa tergantung dan keinginan untuk mandiri. Menurut para remaja bahwa kemandirian berarti melepaskan melepaskan diri dari kendali orang tua, tanpa menyadari bahwa kemandirian terjadi melalui suatu proses belajar yang terjadi secara bertahap.

B. Perencanaan dan Implementasi
Masalah utama yang biasa dialami remaja berkaitan dengan perilaku seksual, keinginan untuk bunuh diri, keinginan untuk lari dari rumah, perilaku antisosial, perilaku mengancam, keterlibatan dengan obat terlarang, hypochondriasis, masalah diit/makan, dan takut sekolah.

Untuk mencegah kesan remaja bahwa memihak kepada orangtuanya, maka sangat perlu diperhatikan perawat untuk melakukan kontak awal langsung dengan remaja. Pengetahuan perawat tentang perkembangan normal yang dialami remaja dangat dieprlukan utnuk dapat membedakan perilaku adaptif dan yang maladaptif. Mengidentifikasi respon maladaptif dan menentukan masalah berdasarkan perilaku remaja merupakan langkah pertama dalam merencanakan asuhan keperawatan. Perawat kemudian menentukan tujuan jangka pendek berdasarkan respons maladaptif dengan memperhatikan kekuatan yang dimiliki remaja, begitu pula tujuan jangka panjang.

Tinjauan terhadap rencana asuhan keperawatan perlu dilakukan secara berkala untuk memperbarui situasi, catatan perkembangan dan mempertimbangkan masalah baru. Sangat penting untuk mengkaji dan mengevaluasi proses keperawatan pada remaja. Implementasi kegiatan perawat meliputi :
1. Pendidikan pada remaja dan orang tua
Perawat adalah tenaga kesehatan yang paling tepat untuk memberikan informasi mengenai kesehatan berkaitan dengan penggunaan obat terlarang, masalah seks, pencegahan bunuh diri, dan tindakan kejahatan, begitu pula informasi mengenai fungsi emosi yang sehat. Dengan mengetahui perilaku remaja dan memahami konflik yang dialami mereka, orang tua, guru dan masyarakat akan lebih suportif dalam menghadapi remaja, bahkan dapat membantu mengembangkan fungsi mandiri remaja. Dengan meningkatkan kemandirian remaja dan mengurangi pertentangan kekuasaan antara remaja dan orang tua mereka, akan menimbulkan perubahan hubungan yang positif.
2. Terapi keluarga
Terapi keluarga khususnya diperlukan bagi remaja dengan gangguan kronis dalam interaksi keluarga yang mengakibatkan gangguan perkembangan pada remaja. Oleh karena itu perwat perlu mengkaji tingkat fungsi keluarga dan perbedaan yang terdapat didalamnya untuk menentukan cara terbaik bagi perawat berinteraksi dan membantu keluarga. Pertemuan pertama antara keluarga dengan terapis. Kemudian pertmuan selanjutnya, remaja dengan terapis. Pada akhirnya saat semua telah jelas, maka keluarga dipertemukan dengan remaja.
3. Terapi kelompok
Terapi kelompok memanfaatkan kecenderungan remaja untuk mendapat dukungan dari teman sebaya. Konflik antara keinginan untuk mandiri dan tetap tergantung, serta konflik berkaitan dengan tokoh otoriter.
4. Terapi individu
Terapi individu dilakukan oleh perawat spesialis jiwa yang berpengalaman dan mendapat pendidikan formal yang memadai. Terapi individu terdiri atas terapi perilaku dan terapi penghayatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan perawat ketika berkomunikasi dengan remaja antara lain penggunaan teknik berdiam diri, menjaga kerahasiaan, negativistic, resistens, berdebat, sikap menguji perawat, membawa teman untuk terapi, dan minta perhatian khusus.

Remaja yang Bekerja
Perkembangan pengetahuan remaja yang normal sangat dibutuhkan untuk membedakan antara tingkah laku pada usia yang diharapkan dan respon yang maladaptive. Ketika sepakat dengan remaja, sebaiknya perawat mengawali pertemuan langsung dengan remaja.Sebagian besar remaja, menunjukkan bahwa perawat akan bekerjasama dengan orangtua. Pertemuan keluarga dapat digunakan untuk diagnosa evaluasi, menolong keterbukaan saat interaksi dengan keluarga dan sangat membantu untuk membangun dukungan keluarga.

Pendidikan Kesehatan
Perawat jiwa mempunyai posisi yang sangat penting untuk mendidik remaja., keluarga, dan masyaarakat. Informasai kesehatan dasar yang harus diberikan seperti obat-obatan terlarang, sex dan kontrasepsi, pencegahan bunuh diri, dan pencegahan kekerasan.Perawat dapat memberikan informasi tentang fungsi kesehatan emosional. Melalui pendidikan keluarga dan masyarakat tentang tingkah laku remaja yang normal dan dengan interpretasi yang mendasari konflik, orangtua, pengajar, dan anggota masyarakat lainnya disiapkan menjadi lebih baik untuk mendukung remaja dan mengembalikan fungsi kesehatan mandiri.

Komunikasi dengan Remaja
Ada beberapa point penting yang harus diperhatikan saat berkominikasi dengan remaja, yaitu:
1. Silence/diam
Diam atau mendengarkan seringkali efektif untuk orang dewasa tetapi menakutkan bagi remaja, terutama saat memulai treatment atau evaluasi. Kecemasan ini seringkali refleksi dari perasaaan remaja tentang empati dan identitas diri yang rendah. Secara singkat, diam dapat kreatif dan produktif ketika remaja menolak ditreatment, ketika remaja sanggup toleransi tanpa kecemasan, yang menindikasikan pertumbuhhan dalam rasa percaya diri dan menerima perasaannya.
2. Confidentiality/ kerahasiaan
Kerahasiaan ditekankan untuk beberapa, terutama untuk remaja yang takut bila perawat melaporkan ke orangtuanya. Berjanji untuk tidak mengatakan apapun kepada orangtua apabila tidak diizinkan, sejak perawat membutuhkan kontak dengan orangtua jika remaja menyatakan keinginan bunuh diri atau yang berhubungan denga pembunuhan, atau menggunakan obat terlarang.
3. Negativism
Perasaan negative seringkali diekspresikan remaja, terutama pada permulaan karena mereka takut akan dampak yang muncul dari treatment.
4. Resistance/Perlawanan
Seringkali remaja mulai menguji perawat untuk melihat apakah mereka menjadi figure authoritarian. Remaja yang suka melawan dapat menyangkal membutuhkan terapi atau pertolongan. Apabila remaja tampak cemas, sangat baik memberi dukungan dan simpati., tunjukkan bahwa perawat tertarik untuk mengetahui remaja dan kemudian berdiskusi saat kondisi netral atau stabil.
5. Arguing/Menentang
Remaja selalu menentang dan mereka jarang mengakui , mendengar pendapat orang. Apabila perawat mengakui memiliki area ketidaktahuan, sangat baik untuk remaja, dimana mereka takut membutuhkan untuk menjadi lebih biak.
6. Testing
Remaja mmebutuhkan dan menginginkan batas. Mereka bingung dan tidak dapat membuat batas untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba melalui trial and error untuk menemukan konsep diri.
7. Dreams and artistic creations
Remaja seringkali kreatif dan sangat pandai belajar dari pelajaran mereka di tempat bekerja. Selama diskusinya relevan, dapat menjadi sumber yang baik untuk mengeksplorasi perasaan mereka.
8. Bringing friends
Remaja yang membawa teman ke pertemuan dapat menghindari terapi. Ada beberapa keuntungan sharing pengalaman denggan peer group, sejak kecemasannya berkurang.

Keadaan memalukan saat terapi
Keadaan memalukan ini dapat terjadi di beberapa usia kelompok, tetapi lebih menonjol pada remaja, terutama selama fase awal terapi.

Permintaan untuk lebih diperhatikan
Beberapa remaja dapat mengembangkan ketergantungan kepada terapis. Fokusnya untuk mengeksplorasi perasaan empati, deprivasi, dan incompleteness bahwa mereka bertangungjawab atas permintaan ini.

Orangtua Remaja
Jika kelompok atau treatment individu sangat selektif untuk remaja, perawta tetap harus mengomunikasikannya dengan keluarga. Orangtua tidak dapat membantu treatment jika mereka tidak mengerti dan tidak mengetahuinya. Perawt dapat bekerja dengan orangtua tanpa membuka rahasia.
Tidak semua orangtua membutuhkan treatment. Ini sangat menolong bagi orangtua yang memiliki treatment jika remaja mengatakan memikul peran yang tidak tepat di rumah.

C. Evaluasi
Dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, masalah remaja lebih sering dihdapai oleh perawat. Perawat harus waspada untuk tidak memihak baik pada remaja maupun orangtua. Remaja cenderung impulsive dan secara tidak disadarinya menghambat perkembangan terapi. Walaupun proses penyembuhan biasanya berjalan lambat, perawat perlu menyadari kemajuan yang dialami remaja, dan bahkan membantu remaja untuk meliaht perbaikan yang telah dicapai, tidak saja dalam perilaku tetapi juga secara menyeluruh. Apabila kriteria keberhasilan ditulis secara jelas dengan menggunakan istilah perubahan yang ingin dicapai, maka kriteria ini dapat dipakai untuk mengukur ekeftivitas intervensi keperawatan.

Daftar Pustaka :
Hamid, Achir, 1999. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja. Jakarta : Widya Medika.
Stuart & Sundeen. 1995. Principles and Practiceof Psciatric Nursing. Fifth edition. United State of America: Mosby

Senin, 21 April 2008

Gimana menurut mu aku?????

video